Cerita Rakyat Sumatera Utara - Kisah Puteri Ular
Di tepi sebuah hutan kecil yang hijau, sebuah danau
yang berair jernih berkilau disapa mentari pagi. Permukaannya yang tenang
beriak kala sepasang kaki yang indah menyibaknya. Sang pemiliknya adalah
seorang putri yang sedang duduk di atas batu besar yang menyembul dari dasar
danau. Aduhai alangkah cantiknya ia. Bahkan burung-burung pun terpesona
memandangnya. Ialah Putri dari kerajaan di sebuah negeri di wilayah Simalungun
yang terkenal amat rupawan. Ialah dambaan dari Puluhan Pangeran dan Putra
bangsawan. Dan kini seorang Pangeran dari negeri seberang telah datang untuk
meminangnya.
Sepasang ikan meloncat di dekat kakinya membuyarkan
lamunannya.
“Ah alangkah bahagianya kedua ikan ini. Mereka
pastilah sepasang kekasih yang saling mencintai. Sebentar lagi akupun akan
sebahagia mereka,” pikir Putri sambil tersenyum kecil.
Beberapa Dayang yang menemani sang Putri, duduk-duduk
di tepi danau memperhatikan tingkah sang Putri yang sebentar-bentar tersipu dan
tersenyum malu.
“Lihatlah Tuan Putri kita. Oh ia pasti sedang
melamunkan rencana pernikahannya dengan Pangeran dari kerajaan tetangga yang
katanya sangat tampan. Setelah puluhan Pangeran yang datang, akhirnya Baginda
memutuskan menerima lamaran yang satu ini,” kata salah satu Dayang.
“Kenapa? Apa istimewanya Pangeran itu?” tanya Dayang
lainnya.
“Entahlah. Bagaimana aku bisa tahu,” kata Dayang
pertama.
“Ayolah! Ceritakan apa yang kau ketahui,” desak Dayang
lain.
“Aku juga tidak tahu banyak, “ jawab Dayang pertama
yang rupanya Dayang kepercayaan Putri. “Tadi pagi Baginda memanggil Putri
menghadap. Katanya utusan Pangeran dari kerajaan tetangga datang untuk
melamarnya. Kerajaannya sangat besar dan kuat. Sehingga menurut Baginda, jika
lamaran itu ia terima, otomatis akan menyatukan kekuatan kedua negeri.”
“Apakah Tuan Putri langsung menerimanya?” tanya Dayang
kedua.
“Ya tentu saja. Putri adalah anak yang berbakti. Ia
tahu perkawinan ini akan membawa kebaikan untuk seluruh negeri,” jawab Dayang
pertama.
“Kalau begitu, sebentar lagi akan ada pesta besar
donk! Asyiiiiik.,” seru Dayang-dayang.
“Ah, masih lama. Masih dua bulan lagi. Pestanya memang
akan besar-besaran, makanya butuh waktu lama untuk mempersiapkannya,” kata
Dayang pertama.
“Ya Tuhan. Semoga Tuan Putri selalu bahagia,” doa
semua Dayang.
“Tugas kita sekarang adalah menjaga Tuan Putri supaya
tidak ada sesuatu yang akan membatalkan pernikahannya,” kata Dayang pertama
disambut anggukan Dayang lainnya.
“Bibi Dayang…!” seru Putri.
Para Dayang segera berlarian menuju Tuan mereka.
Mereka membantu Putri membersihkan badan hingga kulitnya semakin tampak
menawan. Kemudian mereka mencuci rambutnya yang panjang dan hitam sehingga
harum semerbak. Kemudian para Dayang membiarkan Tuan mereka berendam menikmati
kesejukan air danau. Memang begitulah kebiasaan Putri, ia tidak pernah
cepat-cepat keluar dari air setelah selesai membersihkan badan.
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang menggoyangkan
semua pepohonan di pinggir danau. Sebatang ranting yang lumayan besar, patah
dan jatuh menimpa wajah Putri tanpa sempat menghindarinya.
“Aaaa…..!” Putri menjerit kesakitan.
Dayang-dayang segera berlarian membantu Putri keluar
dari danau. Dari sela jari-jari Putri yang masih menutupi mukanya, mengalir
darah segar. Dengan panik mereka berusaha menghentikannya. Tapi alangkah
terkejutnya mereka ketika menyadari ternyata hidung Putri telah hilang sebelah.
“Cepat ambilkan aku cermin!” perintah Putri.
Dengan ketakutan, mereka segera menyerahkan sebuah
cermin.
“Tidaakkk…!” tangis Putri pilu. “Oh Tuhan. Mukaku
cacat. Bagaimana aku bisa menikah dengan Pangeran jika mukaku sejelek ini. Ia
pasti tidak mau melihatku.”
Putri menangis meratapi nasibnya yang malang. Ia
begitu ketakutan membayangkan kemarahan Pangeran jika ia tahu mempelainya tak
secantik yang ia bayangkan. Mungkin negerinya akan diserang, karena dianggap
telah berbohong. Atau hal-hal buruk lainnya. Ia tak kuasa membayangkan
kesedihan ayah dan bundanya.
“Tuhan, lebih baik kau hukumlah aku. Hilangkanlah aku
dari dunia ini. Aku tidak sanggup bertemu kedua orang tuaku lagi, “ ratap
Putri.
Petir menyambar diiringi guntur yang menggelegar
begitu Putri mengucapkan doanya. Semua yang ada di situ menjerit ketakutan.
Mereka semakin ketakutan ketika melihat badan Putri secara perlahan mulai
ditumbuhi sisik seperti ular. Dayang pertama segera berlari ke istana untuk
memberitahu Raja dan Ratu.
“Apa? Putriku berubah menjadi ular? Bagaimana bisa?”
seru Ratu sambil terisak.
“Ayolah kita segera pergi melihatnya. Mungkin kita
masih bisa menolongnya,” kata Raja sambil menarik tangan istrinya. Tabib istana
pun tanpa disuruh ikut berlari di belakang Raja.
Sesampainya di danau, Putri sudah tidak tampak lagi.
Tinggal para dayang yang masih menangis keras mengerumuni seekor ular besar
yang bergelung di atas batu besar.
“Putriku…?” seru Ratu shock.
Ular besar itu menoleh dan menjulurkan lidahnya. Dari
kedua matanya mengalir air mata. Pandangannya begitu memilukan seolah-olah
hendak mengucapkan maaf dan selamat tinggal.
“Putri. Apa yang terjadi nak?” tangis Raja dan Ratu.
“Cepat tolong dia tabib!” seru Raja.
Namun Ular besar itu menggelengkan kepalanya dan
segera meninggalkan mereka menuju hutan. Betapapun kerasnya Raja dan Ratu
memanggilnya, Putri yang malang itu tetap menghilang ditelan hutan. Sejak itu
Putri tidak pernah kembali.
Sumber : dongengkakrico

0 komentar:
Posting Komentar