Cerita Rakyat Betawi - Putri Keong Mas
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang janda dan anak laki-lakinya yang bernama Ceceng. Mereka tinggal di sebuah gubuk tua yang didirikan di atas tanah sewaan, dari seorang tuan tanah. Suatu hari, ibu Si Ceceng sakit. Semakin hari sakit ibu Si Ceceng bertambah parah. Akhirnya, ibu Si Ceceng mengembuskan napas terakhirnya. Kini, Si Ceceng tinggal sendirian.
Keesokan harinya datanglah tuan tanah menagih uang
sewa tanah. Si Ceceng memohon kepada tuan tanah untuk menangguhkan
pembayarannya. Namun, tuan tanah sangat marah. Kemudian disuruhnya Si Ceceng
mengerjakan sawahnya, sebagai ganti pembayaran sewa tanah. Permintaan tuan
tanah disanggupinya sebagai pengganti utangnya.
Pada suatu hari, ketika Si Ceceng sedang mencangkul di
sawah. Ia melihat seekor keong emas. Ia mengambilnya dan membawanya pulang.
Setibanya di rumah, keong itu diletakkan di dalam tempayan dan ditutupnya
dengan rapi. Kemudian ia kembali lagi ke sawah, meneruskan pekerjaannya yang
tertunda. Hingga sore hari, ia tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan
baik.
Alangkah terkejutnya Si Ceceng, ketika melihat
rumahnya tampak rapi dan bersih.
Tidak hanya itu, makanan dan minuman juga
tersedia. Siapa gerangan yang telah memasak? Tanpa ragu, akhirnya Si Ceceng pun
menghabiskan seluruh makanan dan minuman yang ada.
Si Ceceng tidur lebih awal dari biasanya. Keesokannya,
ia segera pergi ke sawah seperti biasanya. Ia pun kembali pulang di sore
harinya. Rasa lelah segera musnah, makanan dan minuman kembali terhidang`,
seperti hari kemarin. Ia pun tanpa ragu menyantapnya dengan lahap. Begitu
seterusnya. Akhirnya, ia pun bertekad untuk menyelidikinya.
Pada suatu hari, Si Ceceng melihat seorang gadis
keluar dari tempayannya. Melihat hal itu, Si Ceceng segera mendekati si gadis
tersebut. Si gadis sangat terkejut. Selanjutnya, gadis itu segera menceritakan
riwayat hidupnya kepada Si Ceceng. Dia adalah seorang bidadari yang dikutuk
menjadi seekor keong. Singkat cerita, mereka pun menikah dan hidup bahagia,
sampai mendapatkan seorang putri yang bernama Sri Nawangsih.
Kebahagiaan rumah tangga Si Ceceng tidak bertahan
lama. Si istri dengan tak sengaja menemukan pakaian bidadarinya yang dulu
hilang. Ia pun terbang ke kahyangan dan kembali ke tempat asalnya. Sudah
menjadi takdir sang dewa, si Ceceng tak kuasa menahan istrinya lebih lama lagi
di dunia. Semenjak kepergian istrinya, Si Ceceng hidup sendiri membesarkan seorang
putri, buah hati yang ditinggalkan istri terkasih yang tak pernah kembali.
Sumber : Dongengceritarakyat

0 komentar:
Posting Komentar