Cerita Rakyat Aceh - Putra Mahkota Amat Mude
Alkisah, di Negeri Alas, Nanggroe Aceh Darussalam, ada
sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang arif dan bijaksana.
Seluruh rakyatnya selalu patuh dan setia kepadanya. Negeri Alas pun senantiasa
aman dan damai.
Namun satu hal yang membuat sang Raja selalu bersedih,
karena belum dikaruniai seorang anak. Sang Raja ingin sekali seperti adiknya
yang sudah memiliki seorang anak.
Pada suatu hari, sang Raja duduk termenung seorang
diri di serambi istana. Tanpa disadarinya, tiba-tiba permaisurinya telah duduk
di sampingnya.
“Apa yang sedang Kanda pikirkan?” tanya permaisuri
pelan.
“Dindaku tercinta! Kita sudah tua, tapi sampai saat
ini kita belum mempunyai seorang putra yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan
ini,” ungkap sang Raja.
“Dinda mengerti perasaan Kanda. Dinda juga sangat
merindukan seorang buah hati belaian jiwa. Kita telah mendatangkan tabib dari
berbagai negeri dan mencoba segala macam obat, namun belum juga membuahkan
hasil. Kita harus bersabar dan banyak berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” kata
permaisuri menenangkan hati suaminya.
Alangkah sejuknya hati sang Raja mendengar kata-kata
permaisurinya. Ia sangat beruntung mempunyai seorang permaisuri yang penuh
pengertian dan perhatian kepadanya.
“Terima kasih, Dinda! Kanda sangat bahagia mempunyai
permaisuri seperti Dinda yang pandai menenangkan hati Kanda,” ucap sang Raja
memuji permaisurinya.
Sejak itu, sang Raja dan permaisuri semakin giat
berdoa dengan harapan keinginan mereka dapat terkabulkan. Pada suatu malam,
sang Raja yang didampingi permaisurinya berdoa dengan penuh khusyuk.
“Ya Tuhan! Karuniakanlah kepada kami seorang putra
yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan ini. Hamba rela tidak merasakan
sebagai seorang ayah, asalkan kami dikaruniai seorang putra,” pinta sang Raja.
Sebulan kemudian, permaisuri pun mengandung. Alangkah
senang hati sang Raja mengetahui hal itu. Kabar tentang kehamilan permaisuri
pun tersebar ke seluruh penjuru negeri. Rakyat negeri itu sangat gembira,
karena raja mereka tidak lama lagi akan memiliki keturunan yang kelak akan
mewarisi tahtanya.
Waktu terus berjalan. Usia kandungan permaisuri sudah
genap sembilan bulan. Pada suatu sore, permaisuri pun melahirkan seorang anak
laki-laki yang sehat dan tampan. Permaisuri tampak tersenyum bahagia sambil
menimang-nimang putranya. Begitupula sang Raja senantiasa bersyukur telah
memperoleh keturunan anak laki-laki yang selama ini ia idam-idamkan.
“Terima kasih Tuhan! Engkau telah mengabulkan doa
kami,” sang Raja berucap syukur.
Seminggu kemudian, sang Raja pun mengadakan pesta dan
upacara turun mani, yakni upacara pemberian nama. Pesta dan upacara tersebut
diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Tamu yang diundang bukan hanya rakyat
negeri Alas, melainkan juga seluruh binatang dan makhluk halus yang ada di laut
maupun di darat.
Seluruh tamu undangan tampak gembira dan bersuka ria.
Dalam upacara turun mani tersebut ditetapkan nama putra Raja, yakni Amat Mude.
Beberapa bulan setelah upacara dilaksanakan, sang Raja
pun mulai sakit-sakitan. Seluruh badannya terasa lemah dan letih.
“Dinda! Mungkin ini pertanda waktuku sudah dekat.
Dinda tentu masih ingat doa Kanda dulu sebelum kita mempunyai anak,” ungkap
sang Raja.
Mendengar ungkapan sang Raja, hati permaisuri menjadi
sedih. Meskipun menyadari hal itu, permaisuri tetap berharap agar sang Raja
dapat sembuh dan dipanjangkan umurnya. Semua tabib diundang ke istana untuk
mengobati penyakit sang Raja.
Namun, tak seorang pun yang berhasil menyembuhkannya.
Bahkan penyakit sang Raja semakin hari bertambah parah. Akhirnya, raja yang
arif dan bijaksana itu pun wafat. Seluruh keluarga istana dan rakyat Negeri
Alas berkabung.
Oleh karena Amat Mude sebagai pewaris tunggal Kerajaan
Negeri Alas masih kecil dan belum sanggup melakukan tugas-tugas kerajaan, maka
diangkatlah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda menjadi raja sementara
Negeri Alas.
Sebagai seorang raja, apapun perintahnya pasti
dipatuhi. Hal itulah yang membuatnya enggan digantikan kedudukannya sebagai
raja oleh Amat Mude. Berbagai tipu muslihat pun ia lakukan. Mulanya, sang Raja
memindahkan Amat Mude dan ibunya ke ruang belakang yang semula tinggal di ruang
tengah. Alasannya, Amat Mude yang masih kecil sering menangis, sehingga
mengganggu setiap acara penting di istana.
Tipu muslihat Raja Muda semakin hari semakin
menjadi-jadi. Pada suatu hari, ia mengumpulkan beberapa orang pengawalnya di
ruang sidang istana.
“Wahai, Pengawal! Besok pagi-pagi sekali, buang
permaisuri dan anak ingusan itu ke tengah hutan!” titah Raja Muda.
“Apa maksud Baginda?” tanya seorang pengawal heran.
“Sudahlah! Tidak usah banyak tanya. Aku kira kalian
sudah tahu semua maksudku,” jawab Raja Muda.
“Ampun, Baginda! Hamba benar-benar tidak tahu maksud
Baginda hendak membuang permaisuri dan putra mahkota ke tengah hutan,” kata
seorang pengawal yang lain.
“Ketahuilah! Aku tidak ingin suatu hari kelak Amat
Mude akan merebut kekuasaan ini dari tanganku,” ungkap Raja Muda.
“Tapi, Baginda. Bukankah Putra Mahkota Amat Mude
pewaris tahta kerajaan ini,” ungkap pengawal yang lain.
“Hei, kalian tidak usah banyak bicara. Laksanakan saja
perintahku! Jika tidak, kalian akan menanggung akibatnya!” bentak Raja Muda.
Mendengar ancaman itu, tak seorang pun pengawal yang
berani lagi angkat bicara, karena jika berani membantah dan menolak perintah
tersebut, mereka akan mendapat hukuman berat.
Keesokan harinya, berangkatlah para pengawal tersebut
mengantar permaisuri dan Amat Mude ke tengah hutan. Keduanya pun ditinggalkan
di tengah hutan dengan bekal seadanya.
Untuk melindungi diri dari panasnya matahari dan
dinginnya udara malam, ibu dan anak itu pun membuat sebuah gubuk kecil di bawah
sebuah pohon rindang. Untuk bertahan hidup, mereka memanfaatkan hasil-hasil
hutan yang banyak tersedia di sekitar mereka.
Waktu terus berjalan. Tak terasa Amat Mude telah
berumur 8 tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan. Pada suatu
hari, ketika sedang bermain-main, Amat Mude menemukan cucuk sanggul ibunya.
Diambilnya cucuk sanggul itu dan dibuatnya mata pancing.
Keesokan harinya, Amat Mude pergi memancing di sebuah
sungai yang di dalamnya terdapat banyak ikan. Dalam waktu sekejap, ia telah
memperoleh lima ekor ikan yang hampir sama besarnya dan segera membawanya
pulang. Alangkah gembiranya hati ibunya.
“Waaah, kamu pandai sekali memancing, Putraku!” ucap
ibunya memuji.
“Iya, Ibu! Sungai itu banyak sekali ikannya,” kata
Amat Mude.
Lima ekor ikan besar tersebut tentu tidak bisa mereka
habiskan. Maka timbul pikiran permaisuri untuk menjualnya sebagian ke sebuah
desa yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Dengan mengajak Amat
Mude, permaisuri pun pergi ke desa itu.
Ketika akan menawarkan ikan itu kepada penduduk,
tiba-tiba ia bertemu dengan saudagar kaya dan pemurah. Ia adalah bekas sahabat
suaminya dulu.
“Ampun, Tuan Putri! Kenapa Tuan Putri dan Putra
Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu heran.
Permaisuri pun menceritakan semua kejadian yang telah
menimpanya sampai ia dan putranya berada di desa itu. Mengetahui keadaan
permaisuri dan putranya yang sangat memprihatinkan tersebut, saudagar itu pun
mengajak mereka mampir ke rumahnya dan membeli semua ikan jualan mereka.
Sesampainya di rumah, saudagar itu menyuruh istrinya
agar segera memasak ikan tersebut untuk menjamu permaisuri dan Amat Mude.
Ketika sedang memotong ikan tersebut, sang Istri menemukan suatu keanehan. Ia
kesulitan memotong perut ikan tersebut dengan pisaunya.
“Hei, benda apa di dalam perut ikan ini? Kenapa keras
sekali?” tanya istri saudagar itu dalam hati dengan penuh keheranan.
Setelah berkali-kali istri saudagar itu
menggesek-gesekkan pisaunya, akhirnya perut ikan itu pun terbelah. Alangkah
terkejutnya ia ketika melihat telur ikan berwarna kuning emas, tapi keras. Ia
pun segera memanggil suaminya untuk memeriksa benda tersebut. Setelah diamati
dengan seksama, ternyata butiran-butiran yang berwarna kuning tersebut adalah
emas murni.
“Dik! Usai memasak dan menjamu tamu kehormatan kita,
segeralah kamu jual emas itu!” pinta saudagar itu kepada istrinya.
“Untuk apa Bang?” tanya sang Istri heran.
“Uang hasil penjualan emas itu akan digunakan untuk
membangun rumah yang bagus sebagai tempat kediaman permaisuri dan putranya.
Abang ingin membalas budi baik sang Raja yang dulu semasa hidupnya telah banyak
membantu kita,” ujar saudagar itu kepada istrinya.
“Baik, Bang!” jawab sang Istri.
Kemudian saudagar itu menyampaikan berita gembira
tersebut kepada permaisuri dan putranya bahwa mereka akan dibuatkan sebuah
rumah yang bagus. Mendengar kabar itu, permaisuri sangat terharu. Ia
benar-benar tidak menyangka jika mantan sahabat suaminya itu sangat baik kepada
mereka.
“Terima kasih atas semua perhatiannya kepada kami,”
ucap permaisuri.
“Ampun, Tuan Putri! Bantuan kami ini tidak ada
apa-apanya jika dibandingkan dengan bantuan Baginda Raja semasa hidupnya kepada
kami,” kata saudagar itu sambil memberi hormat kepada permaisuri dan Amat Mude.
Menjelang sore hari, permaisuri dan Amat Mude pun
mohon diri untuk kembali ke gubuknya. Saudagar itu pun memberikan pakaian yang
bagus-bagus dan membekali mereka makanan yang lezat-lezat.
Beberapa lama kemudian, rumah permaisuri pun selesai
dibangun. Kini permaisuri dan Amat Mude menempati rumah bagus dan bersih. Untuk
memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari mereka, Amat Mude pergi ke sungai setiap
hari untuk memancing.
Ikan-ikan yang diperolehnya untuk dimakan sehari-hari
dan selebihnya dijual ke penduduk sekitar. Di antara ikan-ikan yang
diperolehnya ada yang bertelur emas. Telur emas tersebut sedikit demi sedikit
mereka simpan, sehingga lama-kelamaan mereka pun menjadi kaya raya dan terkenal
sampai ke seluruh penjuru negeri.
Berita tentang kekayaan permaisuri dan putranya itu pun
sampai ke telinga Pakcik Amat Mude. Mendengar kabar itu, ia pun berniat untuk
mencelakakan Amat Mude, karena tidak ingin melepaskan kekuasaannya.
Pada suatu hari, Raja Muda yang serakah itu memanggil
Amat Mude untuk menghadap ke istana. Ketika Amat Mude sampai di istana,
alangkah terkejutnya Raja Muda saat melihat seorang pemuda gagah dan tampan
memberi hormat di hadapannya. Dalam hatinya berkata, “pemuda ini benar-benar
menjadi ancaman bagi kedudukanku sebagai raja”.
Maka ia pun memerintahkan Amat Mude untuk pergi
memetik buah kelapa gading di sebuah pulau yang terletak di tengah laut. Buah
kelapa gading itu diperlukan untuk mengobati penyakit istri Raja Muda. Konon,
lautan yang dilalui menuju ke pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas.
Siapa pun yang melewati lautan itu, maka akan celaka.
“Hei, Amat Mude! Jika kamu tidak berhasil mendapatkan
buah kelapa gading itu, maka kamu akan dihukum mati,” ancam Raja Muda.
Oleh karena berniat ingin menolong istri Raja Muda,
Amat Mude pun segera melaksanakan perintah itu. Setelah berhari-hari berjalan,
sampailah Amat Mude di sebuah pantai. Ia pun mulai kebingungan mencari cara
untuk mencapai pulau itu.
Pada saat ia sedang duduk termenung berpikir,
tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Silenggang Raye yang
didampingi oleh Raja Buaya dan seekor Naga Besar. Amat Mude pun menjadi
ketakutan.
“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan hendak ke mana?” tanya
Ikan Silenggang Raye.
“Sa... saya Amat Mude,” jawab Amat Mude dengan gugup,
lalu menceritakan asal-asul dan maksud perjalanannya.
Mendengar cerita Amat Mude tersebut, Ikan Silenggang
Raye, Raja Buaya dan Naga itu langsung memberi hormat kepadanya. Amat Mude pun
terheran-heran melihat sikap ketiga binatang raksasa itu.
“Kenapa kalian hormat kepadaku?” tanya Amat Mude
heran.
“Ampun, Tuan! Almarhum Ayahandamu adalah raja yang
baik. Dulu, kami semua diundang pada pesta pemberian nama Tuan!” jawab Raja
Buaya.
“Benar, Tuan! Tuan tidak perlu takut. Kami akan
mengantar Tuan ke pulau itu,” sambung Naga besar itu.
“Terima kasih, Sobat!” ucap Amat Mude.
Akhirnya, Amat Mude pun diantar oleh ketiga binatang
raksasa tersebut menuju ke pulau yang dimaksud. Tidak berapa lama, sampailah
mereka di pulau itu. Sebelum Amat Mude naik ke darat, si Naga besar memberikan
sebuah cincin ajaib kepada Amat Mude. Dengan memakai cincin ajaib itu, maka
semua permintaan akan dikabulkan.
Setelah itu, Amat Mude pun segera mencari pohon kelapa
gading. Tidak berapa lama mencari, ia pun menemukannya. Rupanya, pohon kelapa
gading itu sangat tinggi dan hanya memiliki sebutir buah kelapa.
Setelah menyampaikan niatnya kepada cincin ajaib yang
melingkar di jari tangannya, Amat Mude pun dapat memanjat dengan mudah dan
cepat sampai ke atas pohon. Ketika ia sedang memetik buah kelapa gading itu,
tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang sangat lembut menegurnya,
“Siapapun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, maka dia akan menjadi
suamiku.”
“Siapakah Engkau ini?” tanya Amat Mude.
“Aku adalah Putri Niwer Gading,” jawabnya.
Ketika Amat Mude baru saja turun dari atas pohon
sambil menenteng sebutir kelapa gading, tiba-tiba seorang putri cantik jelita
berdiri di belakangnya. Alangkah takjubnya ketika ia melihat kecantikan Putri
Niwer Gading.
Akhirnya, Amat Mude pun mengajak sang Putri pulang ke
rumah untuk menikah. Pesta perkawinan mereka pun dirayakan dengan ramai di
kediaman Amat Mude.
Usai pesta, Amat Mude ditemani istri dan ibunya segera
menyerahkan buah kelapa gading yang diperolehnya kepada Pakciknya. Maka
selamatlah ia dari ancaman hukuman mati.
Bahkan, berkat ketabahan dan kebaikan hatinya, Raja
Muda tiba-tiba menjadi sadar akan kecurangan dan perbuatan jahatnya. Ia juga
menyadari bahwa Amat Mude-lah yang berhak menduduki tahta kerajaan Negeri Alas.
Akhirnya, atas permintaan Raja Muda, Amat Mude pun dinobatkan menjadi Raja
Negeri Alas.
Sumber : kumpulan-tugas-sekolahku

0 komentar:
Posting Komentar